Pentingnya Prinsip Enam Tepat Obat Bagi Perawat

Keperawatan merupakan pemberi layanan kesehatan terbesar di rumah sakit, hampir 90 persen layanan kesehatan dilakukan oleh perawat melalui asuhan keperawatan. Pasien telah dijamin haknya dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu. UU no 44 tahun 2009 tentang rumah sakit menyebutkan bahwa rumah sakit dituntut untuk memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dengan menerapkan standar keselamatan pasien. Surat KMK RI No.58 tahun 2014 menyebutkan bahwa pasien wajib dilindungi dari penggunaan obat dalam rangka keselamatan pasien.

Salah satu peran penting perawat di layanan kesehatan yaitu memperhatikan prinsip enam tepat obat saat memberikan obat kepada pasien. Enam tepat obat terdiri dari : tepat obat, tepat dosis obat, tepat waktu saat pemberian obat, tepat cara dalam pemberian obat, tepat pasien yang akan diberikan obat dan tepat dokumentasi setelah pemberian obat sebagai pertanggungjawaban perawat secara legal atas tindakan yang telah dilakukan.

Penerapan keselamatan pasien dalam enam tepat pemberian obat bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan, hal ini disebabkan oleh beban kerja perawat yang tinggi, jumlah perawat yang tidak sesuai standar, perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan kompetensi yang dimiliki oleh perawat, sehingga layanan keperawatan terkadang masih mendapat komplain dari penerima layanan kesehatan, seperti terjadinya kesalahan dalam pemberian obat kepada pasien, atau yang biasa disebut dengan medication error.

Institute of Medicine (IOM) tahun 1999 melaporkan bahwa sekitar 44.000–98.000 orang meninggal karena medication error. Salah satu penelitian di Indonesia menyebutkan, di rumah sakit angka kejadian medication error sekitar 3-6,9 persen pada pasien yang menjalani rawat inap. Angka kejadian medication error ditemukan 11 persen berkaitan dengan kesalahan dalam menyerahkan obat kepada pasien dalam bentuk dosis atau obat yang keliru. Penelitian Muroi, Shen, Angosta, & Ph, (2017) di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa medication error terjadi disebabkan oleh jumlah pasien dan jumlah perawat yang tidak seimbang, sehingga beban kerja perawat cukup tinggi dan berisiko kurang memperhatikan prinsip enam tepat pemberian obat.

Medication error dapat terjadi disetiap fase, mulai dari fase prescribing/peresepan obat (dilakukan oleh dokter), dispensing/memvalidasi resep obat (dilakukan oleh apoteker), administration/memberi obat (dilakukan oleh perawat ataupun pasien). Fase Administrasi obat adalah tindakan yang dilakukan perawat, yaitu kegiatan mempersiapkan dan memberikan obat kepada pasien melalui rute tertentu (misalnya : memberikan obat minum, obat injeksi/suntikan, obat tetes, saleb, dan lain-lain).

Untuk mencegah terjadinya medication error berulang perlu dengan memperbaiki sistem penatalaksanaan pemberian obat serta adanya komitmen yang kuat dari perawat untuk melaksanakannya. Pemerintah telah mengeluarkan amanat terkait pelaksanaan pemberian obat khusus bagi perawat, seperti yang tertuang pada UU No. 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Pemenkes RI No. 148 tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat, Permenkes Nomor 1796 tahun 2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Kebijakan-kebijakan tersebut membantu profesi perawat agar mempunyai legitimasi dalam menjalankan praktik profesinya termasuk dalam memberikan obat kepada pasien.

UU Keperawatan bermanfaat untuk memberikan perlindungan perawat dalam menjalankan praktiknya dan memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam menerima asuhan keperawatan. Namun kebijakan-kebijakan tersebut masih bersifat terlalu umum, belum menjelaskan secara spesifik tentang bagaimana prinsip ketepatan dan keamanan dalam pemberian obat yang dilakukan oleh perawat.

Upaya mengoptimalkan peran perawat dalam ketepatan pemberian obat salah satunya dengan memperjelas kebijakan secara spesifik terkait bagaimana penatalaksanaan serta peran dan prinsip perawat dalam pemberian obat. UU No. 38 tahun 2014 tentang keperawatan sudah dikumandangkan sejak 3 tahun yang lalu, dalam UU tersebut disebutkan bahwa “Konsil Keperawatan dibentuk paling lama 2 tahun sejak UU ini dikumandangkan”. Namun hingga saat ini konsil keperawatan di Indonesia belum juga dibentuk. Tanpa adanya konsil keperawatan di Indonesia UU keperawatan tidak terlaksana secara utuh.

Konsil keperawatan merupakan badan otonom yang memantau jalannya praktik keperawatan di Indonesia. Fungsi dari konsil keperawatan sesuai dengan isi UU keperawatan yaitu: pada pasal 47, Konsil Keperawatan bermanfaat untuk meningkatkan mutu prkatik keperawatan dan untuk memberikan perlindungan serta kepastian hukum kepada perawat dan masyarakat, pasal 48 : Konsil Keperawatan mempunyai fungsi pengaturan, penetapan dan pembinaan perawat dalam menjalankan praktik keperawatan.

Siapa yang dapat menjamin praktik keperawatan di Indonesia kalau bukan konsil keperawatan ?. Layaknya kita berjalan masih dengan satu kaki (belum dengan dua kaki), ada undang-undang keperawatan namun tak ada konsil keperawatan. Pemerintah sebaiknya segera membentuk konsil keperawatan sebagai badan pengawas praktik keperawatan di Indonesia agar juga menjadi solusi kunci dalam mencegah terjadinya medication error yang dilakukan oleh perawat.

Bagi pemerintah sebaiknya mengidentifikasi kembali beban kerja perawat terhadap tingginnya jumlah pasien, terutama di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meningkatnya jumlah pasien saat ini tidak diimbangi dengan meningkatnya kuantitas, kualitas dan kesejahteraan perawat. Perawat dapat juga ikut dilibatkan dalam pembuatan kebijakan karena jumlah perawat merupakan potensi yang besar dalam pengembangan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Bagi Institusi pelayanan kesehatan sebaiknya menerapkan peraturan perhitungan beban kerja perawat agar tugas dan tanggung jawab perawat lebih terkontrol dan lebih optimal. Institusi pelayanan kesehatan sebaiknya memberikan pelatihan ataupun pendidikan berkelanjutan bagi tenaga keperawatan untuk meningkatkan kompetensi terutama terkait prinsip pemberian obat.

Bagi Perawat Indonesia, kunci dari suksesnya pelayanan kesehatan adalah dengan adanya komitmen yang kuat dari perawat professional itu sendiri. Mari kita bekerja dengan hati, mendidik dengan cinta dan mengutamakan keselamatan pasien dengan memperhatikan prinsip enam tepat obat. Selamat berkarya perawat-perawat Indonesia!

sumber: bontang.prokal.co

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *